Kecelakaan yang dialami Loris Capirossi di balapan akhir pekan silam membuat pembalap Rizla Suzuki itu harus naik meja operasi. Meski begitu Capirossi tetap bersyukur. Mengapa?
Capirossi mengalami kecelakaan usai bertabrakan dengan Nicky Hayden di awal balapan. Itu membuat rider kelahiran 4 April 1973 tersebut harus meninggalkan lomba.
Dikutip dari situs resmi MotoGP, Senin (6/9/2010) malam WIB, Capirossi ternyata kecelakaan tersebut memaksa dia untuk menjalani operasi.
"Saya sangat marah atas apa yang terjadi di balapan, karena saya merasa sangat percaya diri dan motor sangat baik. Jadi saya pikir bisa tampil kompetitif," jelas Capirossi. Kini saya harus menjalani operasi dan saya berharap sudah bisa kembali tampil di Aragon (MotoGP Spanyol)," kata Capirossi.
Meski begitu, mantan rider Ducati tersebut mengaku masih bersyukur dengan kondisinya. "Namun apa yang saya alami tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang terjadi di balapan lain," ujar Capirossi merujuk kepada tewasnya pembalap Moto2 Shoya Tomizawa.
"Saya menyatakan rasa duka cita kepada keluarga Tomizawa. Ini merupakan tragedi yang sungguh menyakitkan dan siapa pun tidak ingin mendengarnya," pungkas dia.
Minggu, 12 September 2010
Tragedi kepergian Tomizawa
Shoya Tomizawa bukanlah pembalap Jepang pertama yang harus kehilangan nyawa di arena. Sebelum ini, beberapa pembalap Negeri Matahari Terbit juga pernah jadi korban.
Di usia yang baru 19 tahun, Tomizawa meregang nyawa usai jatuh dari motornya dan ditabrak dua motor lain di balapan Moto2 di Sirkuit Misano, San Marino, Minggu (5/9/2010).
Tomizawa adalah seorang pembalap muda berbakat yang menjanjikan. Sebagai bukti, pembalap kelahiran 10 Desember 1990 itu menjuarai seri pertama Moto2 musim ini di Qatar dan jadi runner-up di seri berikutnya di Spanyol.
Tragedi yang menimpa Tomizawa bukanlah yang pertama yang pernah menimpa pembalap Jepang. Sebelumnya, Jepang juga pernah kehilangan seorang pembalap berbakat lain, Daijiro Kato.
Kato meninggal dunia di depan publiknya sendiri di MotoGP Jepang 2003. Saat itu, Kato (27 tahun) menabrak tembok pembatas dalam kecepatan 200 km per jam dan mengalami cedera parah di kepala, leher dan dada.
Padahal saat itu Kato adalah harapan Jepang dengan menjadi orang kedua setelah Tetsuya Harada yang pernah jadi juara dunia di kelas 250 cc. Ia sempat digadang-gadang bakal jadi orang Jepang pertama yang akan jadi juara dunia kelas primer (500cc/MotoGP).
Sebelum Kato, Jepang juga pernah kehilangan pembalap di ajang Superbike, Yasutomo Nagai. Nagai meregang nyawa setelah dua hari koma akibat mengalami kecelakaan di Superbike Belanda tahun 1995.
Satu lagi pembalap Jepang yang harus kehilangan nyawa adalah Norifumi Abe pada tahun 2007. Namun Abe tewas bukan dalam balapan, tapi di jalan raya saat motornya terlibat kecelakaan dengan sebuah truk.
Di usia yang baru 19 tahun, Tomizawa meregang nyawa usai jatuh dari motornya dan ditabrak dua motor lain di balapan Moto2 di Sirkuit Misano, San Marino, Minggu (5/9/2010).
Tomizawa adalah seorang pembalap muda berbakat yang menjanjikan. Sebagai bukti, pembalap kelahiran 10 Desember 1990 itu menjuarai seri pertama Moto2 musim ini di Qatar dan jadi runner-up di seri berikutnya di Spanyol.
Tragedi yang menimpa Tomizawa bukanlah yang pertama yang pernah menimpa pembalap Jepang. Sebelumnya, Jepang juga pernah kehilangan seorang pembalap berbakat lain, Daijiro Kato.
Kato meninggal dunia di depan publiknya sendiri di MotoGP Jepang 2003. Saat itu, Kato (27 tahun) menabrak tembok pembatas dalam kecepatan 200 km per jam dan mengalami cedera parah di kepala, leher dan dada.
Padahal saat itu Kato adalah harapan Jepang dengan menjadi orang kedua setelah Tetsuya Harada yang pernah jadi juara dunia di kelas 250 cc. Ia sempat digadang-gadang bakal jadi orang Jepang pertama yang akan jadi juara dunia kelas primer (500cc/MotoGP).
Sebelum Kato, Jepang juga pernah kehilangan pembalap di ajang Superbike, Yasutomo Nagai. Nagai meregang nyawa setelah dua hari koma akibat mengalami kecelakaan di Superbike Belanda tahun 1995.
Satu lagi pembalap Jepang yang harus kehilangan nyawa adalah Norifumi Abe pada tahun 2007. Namun Abe tewas bukan dalam balapan, tapi di jalan raya saat motornya terlibat kecelakaan dengan sebuah truk.
Firasat Hayden & Rossi terkait Tomizawa
Para pembalap MotoGP baru mengetahui berita meninggalnya Shoya Tomizawa tepat setelah GP San Marino berakhir. Namun sebelumnya dua rider senior sudah berfirasat Tomizawa bakal meregang nyawa gara-gara insiden mengerikan itu.
Pada balapan kelas Moto2 di sirkuit Misano tersebut Tomizawa kehilangan nyawanya setelah terjatuh dari motornya, lalu terhantam dua pembalap di belakangnya, yang tentu saja melaju sangat kencang. Pembalap itu adalah Alex de Angelis dan Scott Redding.
Kabar meninggalnya Tomizawa itu sampai di telinga para rider MotoGP usai balapan yang dimenangi Dani Pedrosa itu berakhir. Kesedihan pun langsung merebak di parc ferme sirkuit dan tak ada perayaan sampanye saat Pedrosa, Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi menaiki podium.
Hanya raut wajah sedih yang terpancar dan bendera negara dari tiga pemilik podium itu dikabarkan setengah tiang sebagai tanda belasungkawa.
Seusai lomba, Nicky Hayden dan Valentino Rossi menuturkan bahwa mereka sudah mengira Tomizawa akan sulit diselamatkan nyawanya usai kecelakaan tragis tersebut. Baik Hayden atau Rossi sempat melihat tragedi itu melalui tayangan televisi di paddock masin-masing.
"Aku bisa merasakan saat berada di grid dan semuanya tahu itu. Jadi aku tidak perlu bertanya - aku merasakannya," ucap Nicky di Sydney Morning Herald.
"Aku tahu (kejadian) itu buruk. Aku harap mungkin hanya patah namun kurasa ia meninggal," sahut Rossi.
Pada balapan kelas Moto2 di sirkuit Misano tersebut Tomizawa kehilangan nyawanya setelah terjatuh dari motornya, lalu terhantam dua pembalap di belakangnya, yang tentu saja melaju sangat kencang. Pembalap itu adalah Alex de Angelis dan Scott Redding.
Kabar meninggalnya Tomizawa itu sampai di telinga para rider MotoGP usai balapan yang dimenangi Dani Pedrosa itu berakhir. Kesedihan pun langsung merebak di parc ferme sirkuit dan tak ada perayaan sampanye saat Pedrosa, Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi menaiki podium.
Hanya raut wajah sedih yang terpancar dan bendera negara dari tiga pemilik podium itu dikabarkan setengah tiang sebagai tanda belasungkawa.
Seusai lomba, Nicky Hayden dan Valentino Rossi menuturkan bahwa mereka sudah mengira Tomizawa akan sulit diselamatkan nyawanya usai kecelakaan tragis tersebut. Baik Hayden atau Rossi sempat melihat tragedi itu melalui tayangan televisi di paddock masin-masing.
"Aku bisa merasakan saat berada di grid dan semuanya tahu itu. Jadi aku tidak perlu bertanya - aku merasakannya," ucap Nicky di Sydney Morning Herald.
"Aku tahu (kejadian) itu buruk. Aku harap mungkin hanya patah namun kurasa ia meninggal," sahut Rossi.
Langganan:
Komentar (Atom)